Home » » Opini Redaksi: Sang Jurnalis "fitnah"

Opini Redaksi: Sang Jurnalis "fitnah"



Ketika kehendak dan tanggung jawab yang melekat tanpa setetes jasa dan penghargaan yang melahirkan sebuah prestasi kerja sepertinya "habis manis sepah di buang",itulah petikan ideologi tanpa tanda jasa yang lahir dari seorang jurnalis yang menempuh tugas mencari berita di daerah. 

Mengejar,berlari tanpa kenal resiko namun apa daya tangan tak sampai,hiasan ini menceritakan perjalanan seorang jurnalis  memburu berita tanpa batas waktu. 

Lain ceritanya jika seorang jurnalis mendapatkan kedudukan strategis dan tidak sepenuhnya jurnalis yang tak peduli lagi dengan tetesan keringan masa lalu.

Meremehkan dan mengabaikan demi jabatan yang di sandang atau lupanya tetesan masa lalu mungkin tidak pernah mengalami hidup sepahit jurnalis lain yang sudah di adopsi ke pihak kedua dan jadinya seenak dio be......tanpa mengalami hal yang payah.... 

Fitnah bertebaran ke pelosok tempat untuk memberikan tanda bahaya,justru sang jurnalis merilis fitnah keluar tanpa batas karena tidak mengetahui dasar-dasar keputusan dan kebijakan yang di peroleh .

Ketika fitnah sampai di permukaan,barulah kebenaran keluar yang sebenarnya .filosofi kebenaran dan keputusan sebagai pahlawan untuk membawa panji-panji kejujuran.

Lahirnya fitnah membentuk kepribadian yang positif agar satu sama lain lebih di kenal  dan di situlah keterbukaan mulai di lihat.Yang sebenarnya harus hindari virus fitnah dari yang lebih paham soal administratif.

Siapa yang salah dalam masalah ini jika sang mantan jurnalis tidak memberi ilmu pengetahuan yang sudah pasti ada dasar hukum administrasinya sedangkan sang jurnalis diam,tuli dan tidak ada harga jual jadi untuk apa di beri tahu.

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كاَنَ مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ، قَالَ: تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ ( صحيح البخاري 

“Tolonglah saudaramu dalam keadaan ia menzhalimi atau dizhalimi. Maka seorang lelaki berkata: 

‘Wahai Rasulullah, Saya menolongnya jika ia dizhalimi, bagaimana pendapatmu jika ia yang menzhalimi, bagaimana saya menolongnya?’

 Beliau saw menjawab: Engkau halangi dia atau engkau mencegahnya dari berbuat zhalim, maka sesungguhnya hal itu merupakan pertolongan terhadapnya. (Shahih Al Bukhari) 

“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS Al-Baqarah: 191)

 وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS Al-Baqarah: 217).

Sebagian kalangan mentafsirkan ayat ini layaknya mentafsirkan bahasa Indonesia. Yaitu, fitnah yang berarti tuduh-menuduh itu lebih keji dan kejam daripada pembunuhan.

 Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.3) ketika kita meng-entri kata “fit•nah”, maka akan kita dapati demikian “perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang):  adalah perbuatan yg tidak terpuji; 

Tanda warna merah ini harus lebih jeli di cermati dan lebih dalam sehingga tidak menjadi multi tafsir.

Sang jurnalis "fitnah" ini adalah perkataan benar dan tidak berlaku bohong,perkataan sang jurnalis berdasarkan hati nurani dan tidak ada maksud tertentuk,semunya hanya keinginan tahuan agar kita sama-sama tidak terjerumus.

Informasi struktur jabatan di kalangan atas seharunya jangan di tutup rapat, dan berikan kepada mantan jurnalis secara tertutup,merasa hebat dan congkak  dan tidak di sebar luasan kepada regenerasi yang belum layak nasibnya maka dasar-dasar virus finah sudah mendekati dan beginilah hasilnya.

Ketika datang sewena - wena tanpa komrpomi musyarawoh dan mufakat maka apa yang terjadi dan siapa yang salah.

pemimpinkah atau sang jurnalis.........!!! 

Maka akan datang badai kecurigaan di antara kita.......atau sebaliknya......

Semua kita kembalikan kepada sang pencipta... 

Semoga fitnah,kesombongan dan ketidak taulananan pemimpin menjadi introspeksi diri agar yang hidupnya sudah layak untuk lebih tunduk dan transfaransi dalam segala hal agar masalah posisi kebenaran ini tidak merusak hati kita semua. 


Saya dan saudara juga saudara yang lain,sebenarnya  di bagian mana?

Suudzon penuh atau Suudzon bertahap atau juga Suudzon sebagian ,

Atau Husnudzon penuh atau Husnudzon bertahap atau juga Husnudzon sebagian.

 Semua itu karena tidak ada komunikasi aktif dan kratif sehingga pikiran-pikiran buruk selalu lahir tanpa kita inginkan.

Antara dasar hukum administratif tidak akan senyawa dengan  kenyataan yang sebenarnya harus di telusuri secara kejiwaan.

Di situlah sesungguhnya dasar yang hakiki dan harus di junjung tinggi agar di kemudian hari tidak akan menjadi fitnah besar.

Salam redaksi



Share this video :
 
Support : Creating Website
Copyright © 2014. TV The Jambi Times - All Rights Reserved